Abrasi Kali Bekasi Kian Parah, Lahan Warga Terus TerkikisKONTENBEKASI.COM – Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat bagi Hamzah (45) dan keluarganya berubah menjadi kepanikan. Setelah luapan air Kali Bekasi mulai surut, ancaman baru justru muncul. Tanah di bawah rumahnya di Kelurahan Telukpucung, Bekasi Utara, tiba-tiba ambles hingga menyebabkan sebagian bangunan roboh. Tak ada pilihan lain, Hamzah bersama istri dan enam anaknya terpaksa mengungsi pada Minggu (25/1) malam demi keselamatan.
Kejadian tersebut bukan peristiwa tunggal. Abrasi di bantaran Kali Bekasi telah lama menghantui warga sekitar. Setiap kali debit air sungai meningkat, pengikisan tanah semakin parah dan perlahan mendekati permukiman. Lahan sempadan yang dulu menjadi penyangga kini hampir lenyap, meninggalkan rumah-rumah warga dalam kondisi rawan longsor.
Sejumlah warga mengungkapkan, beberapa rumah di kawasan itu bahkan telah hilang sepenuhnya akibat tergerus arus sungai. Bagi warga yang tinggal paling dekat dengan bantaran kali, surutnya air justru menjadi momen paling menegangkan karena risiko tanah amblas semakin besar.
Hamzah masih mengingat jelas detik-detik rumahnya mulai rusak. Saat air masih tinggi, kondisi bangunan tampak normal. Namun setelah air surut, tanah di bawah rumah perlahan turun hingga akhirnya ambles.
“Pas air surut, tanahnya makin lama makin turun. Kejadiannya sekitar setengah tujuh malam. Anak-anak langsung saya bawa keluar,” ujarnya, Senin (26/1).
Akibat kejadian itu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi rumah Hamzah runtuh. Puing-puing bangunan masih terlihat berserakan, sementara sisa struktur rumah tampak rapuh dan berisiko roboh sewaktu-waktu.
“Ini kamar, dapur, kamar mandi semua ambles. Mau bagaimana lagi, namanya juga rumah di pinggir kali,” katanya pasrah.
Hamzah memilih mengungsikan keluarganya ke rumah kerabat. Ia menilai memperbaiki rumah tanpa penanganan dari pemerintah hanya akan membahayakan. Padahal, beberapa tahun lalu rumahnya masih memiliki jarak aman dari bibir Kali Bekasi sebelum abrasi terus menggerus tanah.
“Kalau diturap sedikit sama pemerintah, mungkin rumah masih bisa diselamatkan,” ujarnya berharap.
Kerusakan akibat abrasi tidak hanya dialami Hamzah. Sedikitnya dua rumah lain di sekitar lokasi juga terdampak. Lurah Telukpucung, Ismail Marjuki, membenarkan bahwa saat ini terdapat tiga rumah yang rusak akibat erosi tanah, diperparah oleh curah hujan tinggi beberapa waktu terakhir.
“Tahun lalu satu rumah, sekarang sudah tiga,” katanya.
Ia mengimbau warga terdampak untuk sementara mengungsi ke rumah kerabat demi menghindari risiko lanjutan. Pihak kelurahan akan berkoordinasi dengan pengurus lingkungan dan unsur sosial untuk penanganan darurat.
Abrasi juga terjadi di wilayah RT 03/02. Kamil Sofyan, salah satu warga, mengaku telah kehilangan hampir 100 meter tanah selama beberapa tahun terakhir. Abrasi terbaru bahkan terjadi tepat di bawah dapur rumahnya.
“Malam itu saya gemetar, takut dapurnya ikut kebawa. Alhamdulillah cuma tanahnya saja,” katanya.
Kini, Kamil tidak lagi menggunakan dapur dan kamar mandi demi keselamatan. Ia mengaku telah menghabiskan puluhan juta rupiah untuk mempertahankan rumahnya. Lahan miliknya yang semula seluas 110 meter persegi kini menyusut menjadi sekitar 65 meter persegi, meski seluruhnya bersertifikat resmi.
“Kalau banjir surut tinggal bersih-bersih. Ini longsor, rumah hilang, tanah hilang,” ujarnya.
Ancaman serupa juga terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi, tepatnya di Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan. Sejumlah rumah di bantaran Kali Bekasi ambruk akibat gerusan tanah. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriyadi, mengatakan pihaknya telah mengosongkan rumah-rumah di zona kritis.
“Kami terus mengimbau warga waspada karena erosi terus melebar,” katanya.
Dodi menegaskan, rumah-rumah terdampak merupakan bangunan milik warga, bukan bangunan liar. BPBD terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk memantau kondisi di sepanjang Kali Bekasi yang dinilai rawan.
Di tengah abrasi yang terus menggerus tanah dan rasa aman, warga di bantaran Kali Bekasi kini berharap adanya langkah nyata dari pemerintah agar ancaman ini tidak terus berulang dan merenggut tempat tinggal mereka. (*)
