Lahan Industri Bekasi Semakin Langka, KIJA & SSIA Panen PeluangKONTENBEKASI.COM – Pasokan lahan industri di kawasan Bekasi, yang selama ini menjadi salah satu hub industri utama di Indonesia, kini semakin terbatas. Data pasar menunjukkan bahwa sepanjang 2025, serapan lahan industri di kawasan Jabodetabekjur mencapai sekitar 311,85 hektare meskipun tidak ada suplai baru yang diluncurkan. Situasi ini menandakan tingkat permintaan yang kuat sementara lahan siap jual semakin sedikit tersedia.
Kondisi ketatnya pasokan lahan mendorong pergeseran strategi investor industri ke wilayah koridor yang lebih berkembang seperti Karawang, Purwakarta, dan Subang, yang dikenal memiliki potensi lahan yang lebih luas untuk ekspansi.
Dalam konteks ini, perusahaan-perusahaan dengan cadangan lahan besar atau akses kawasan baru seperti KIJA dan SSIA mendapat keuntungan dari dinamika pasar. KIJA berhasil mencetak rekor marketing sales sekitar Rp3,6 triliun pada 2025, melebihi target yang ditetapkan, dan menargetkan peningkatan menjadi Rp3,75 triliun pada 2026. Permintaan yang kuat terutama berasal dari investor sektor manufaktur, termasuk manufaktur berbasis teknologi dan kendaraan listrik.
Perusahaan juga meraih pertumbuhan laba yang signifikan, yang sebagian besar ditopang oleh penjualan lahan industri di Cikarang serta di kawasan Kendal Industrial Park yang kini menjadi menarik bagi penanaman modal asing. Hal ini memperkuat posisi KIJA sebagai pemain utama di pasar lahan industri yang semakin kompetitif.
Sementara itu, SSIA melalui proyek Subang Smartpolitan menjadi magnet bagi investor relokasi industri dan Penanaman Modal Asing (PMA). Dengan cadangan landbank sekitar 2.700 hektare di Subang, SSIA dapat memanfaatkan keterbatasan lahan di Bekasi untuk menarik minat investor yang mencari lokasi strategis baru.
Para analis menyatakan bahwa ketatnya pasokan lahan industri di Bekasi dan wilayah matang lainnya tidak hanya menjaga resiliensi harga lahan tetapi juga membuka peluang bagi kawasan baru dan perusahaan dengan landbank besar untuk mengambil peran lebih besar dalam peta industri nasional pada 2026 dan seterusnya. (*)
